Kamis, 22 Februari 2018

Surat Seorang Prajurit Muda Kepada Istrinya

"Aku pergi, Dik.  Jaga kesehatanmu untukku.  Jaga juga kebahagiaanmu untukku.  Tak usah berlarut dalam kesedihan. Pergilah yang jauh, kejar mimpimu.  Jadilah orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.  Dunia ini luas, kau bisa lakukan apapun yang mau kau lakukan.  Bila kau tak sanggup melakukan itu, kembalilah ke orang tuamu.  Tak usah pikirkan aku.  Tak usah tangisi kepergianku.  Aku akan memperjuangkan kebebasan negeri ini dari penjajah.  Ini semua ku lakukan demi masa depanmu.  Jangan tunggu aku.  Aku sendiri tak tahu kapan aku akan kembali.  Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin tidak sama sekali.  Aku akan merindukanmu, Dik.  Bila aku mati, aku berjanji akan memohon kepada Tuhan agar bisa menemuimu untuk terakhir kali.  Dan bila kau melihat kunang-kunang terbang dan memancarkan cahayanya dari luar jendelamu, itu adalah aku.  Kunang-kunang itu datang membawa pesan yang telah ku titipkan untukmu.

Bahwa aku mencintaimu."

Wanita itu terus menanti.
Dan prajurit itu tidak pernah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar